Zonarepublik com, Pesawaran – Kebijakan pembelian dan penarikan iyuran seragam olahraga sebesar Rp 500.000 per siswa di SMA Negeri 1 Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, memicu gelombang protes keras dari para wali murid. Kekecewaan utama tertuju pada besaran biaya yang dianggap memberatkan dan proses pengambilan keputusan yang dinilai sepihak, tanpa melalui musyawarah dengan orang tua. Rabu 30 Juli 2025
Besaran iuran Rp 500.000 untuk satu set seragam olahraga dinilai sangat tinggi dan tidak wajar oleh mayoritas wali murid, terutama di tengah kondisi ekonomi saat ini dan latar belakang sosial-ekonomi beragam di Pesawaran.
Salah satu anggota komite sekolah secara gamblang menyatakan bahwa pembelian seragam ini TIDAK MELIBATKAN MUSYAWARAH dengan orang tua/wali murid terlebih dahulu. Pernyataan ini semakin memantik kemarahan, karena dianggap melanggar prinsip transparansi dan partisipasi.
Wali murid mempertanyakan rincian biaya (breakdown cost) yang mendasari angka Rp 500.000. Mereka menuntut kejelasan mengenai spesifikasi bahan, harga satuan, biaya jahit, dan margin keuntungan (jika ada) yang dikenakan.
Biyaya Rp 500 ribu untuk seragam olahraga? Ini sangat tidak masuk akal!, Kami sama sekali tidak diajak rembuk. Tiba-tiba hanya diberi tahu harus bayar. Apalagi ada pengurus komite yang terang-terangan bilang tidak ada musyawarah. Ini kan kebijakan sepihak yang sangat tidak menghargai orang tua,”.
“Sebagai orang tua yang bekerja serabutan, Rp 500 ribu itu uang sangat besar. Belum lagi ada iuran-iuran lain. Sekolah negeri seharusnya lebih peka dan transparan dalam hal keuangan,” tambah Budi, wali murid lainnya.
Seorang anggota komite sekolah, yang enggan disebutkan namanya, ketika dikonfirmasi oleh beberapa wali murid mengenai prosesnya, secara terbuka menyatakan: “Untuk pembelian seragam olahraga kali ini, memang tidak diadakan musyawarah dengan orang tua. Keputusan sudah diambil berdasarkan pertimbangan tertentu.” Pernyataan inilah yang menjadi bensin bagi api protes, karena mengukuhkan tuduhan wali murid tentang ketiadaan proses konsultasi.
Wali Murid meminta transparansi Penuh pihak sekolah SMA negeri 1 kedondong dan komite untuk segera mengeluarkan rincian biaya (breakdown cost) pembelian seragam olahraga tersebut, Menuntut penjelasan resmi dan permintaan maaf atas proses pengambilan keputusan yang tidak melibatkan musyawarah wali murid.
Suasana di lingkungan SMA Negeri 1 Kedondong tegang. Banyak wali murid yang menolak membayar iuran hingga ada kejelasan dan transparansi. Isu ini juga menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Kabupaten Pesawaran, mempertanyakan akuntabilitas pengelolaan keuangan di sekolah negeri.
Untuk ke akuratan informasi team media melakukan kordinasi dan konfirmasi pada Sukma Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Kedondong melalui sambungan pesan Whatsap nya menjelaskan, Ohya memang siswa yang mau buat seragam, tapi siswa langsung pesan di konveksi Pesona kebagusan. Singkatnya
By : Redaksi





