Warga Geram Perbaiki Jalan Rusak dengan Kocek Sendiri Di Desa Sukamandi

Zonarepublik.con, Pesawaran – Aroma aspal panas dan bau tanah basah bercampur dengan kekecewaan warga menyelimuti Desa Sukamandi, Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung Minggu (23/11/2025). Puluhan warga dari Dusun III dan V, dengan pacul dan gerobak, turun ke jalan untuk memperbaiki sendiri infrastruktur yang seharusnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Desa. Aksi gotong royoyang ini bukan sekadar panggilan kerja bakti, melainkan sebuah bentuk protes yang terpahat jelas di setiap urat lelah dan keringat mereka.

 

Bacaan Lainnya

Tanpa menunggu uluran tangan dari desa, warga menguras tenaga dan mengumpulkan dana secara swadaya untuk membeli material dan mempekerjakan tenaga. Jalan yang rusak dan menyusahkan itu akhirnya diperbaiki oleh tangan mereka sendiri, sebuah ironi pahit di tengah gencarnya wacana penggunaan Dana Desa.

 

“Ini adalah jeritan kami yang sudah tak terdengar. Dana Desa katanya besar, tapi untuk perbaiki jalan yang setiap hari kami lalui saja, kami harus berjuang sendiri. Di mana program yang pro-rakyat?” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya, suaranya penuh emosi.

 

Ironi justru menganga lebar tak jauh dari lokasi. Di dekat kediaman Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sebuah proyek pembangunan kolam ikan sedang dikerjakan. Warga mencurigai, proyek yang dianggap tidak prioritas ini baru dimunculkan setelah keluhan mereka mengenai jalan yang rusak membanjiri media sosial, termasuk TikTok.

 

“Semua ini, dari tenaga sampai material, adalah uang dan keringat kami. Tidak ada secuil pun bantuan dari Kepala Desa. Ini murni keputusasaan,” tegas warga lain dengan nada getir.

 

Aksi swadaya ini adalah cermin dari jurang pemisah yang dalam antara kebutuhan riil warga dan prioritas program Pemerintah Desa Sukamandi. Sementara warga berkorban untuk kebutuhan paling mendasar—jalan yang layak—pemerintah desa justru dianggap asyik dengan proyek yang tidak menyentuh akar persoalan masyarakat.

 

Tindakan warga ini adalah sebuah teguran keras dan gambaran nyata habisnya kesabaran. Mereka mendesak Pemerintah Desa Sukamandi dan Pemerintah Kabupaten Pesawaran untuk segera melakukan evaluasi total terhadap tata kelola Dana Desa. Alokasi dana harus dialihkan dari proyek yang tidak jelas urgensiinya kepada pembangunan infrastruktur dasar yang langsung dirasakan dampaknya oleh masyarakat.

 

Masyarakat sudah lelah dengan janji. Mereka menuntut tindakan nyata. Jika tidak, aksi gotong royong sebagai bentuk protes seperti ini tidak akan menjadi yang terakhir. Ia akan menjadi monument hidup atas kegagalan kepemimpinan dan pengelolaan dana publik di tingkat desa.

 

By : Edi Wijaya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *