Kronologi Roti Basi dan Pengakuan Pihak SPPG Kami Ganti Satu Pcs Supplier Kami Komplain

Zonarepublik.com, Pesawaran – Polemik distribusi makanan bergizi di Kabupaten Pesawaran terus memanas. Publik dikejutkan dengan pengakuan terbaru dari Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukamaju, Yayasan Liara Insan Brilliant, terkait insiden paket diduga bermasalah yang diterima siswa SMK Wirabuana, Kecamatan Kedondon, Kabupaten pesawaran,Provinsi lampung

 

Bacaan Lainnya

Alih-alih membantah, Kepala SPPG Sukamaju, Adhan, justru mengkonfirmasi adanya produk yang “kurang layak” dalam paket yang didistribusikan kepada para siswa. Dalam keterangan tertulisnya melalui pesan WhatsApp, ia mengakui bahwa roti yang menjadi bagian dari paket gizi tersebut memang bermasalah.

 

“Iya, kejadian tersebut sudah saya tindaklanjuti ke pihak sekolah dengan menggantikan roti satu pcs yang kurang layak tersebut,” ujar Adhan saat dikonfirmas. Sabtu 07 Maret 2026

 

Yang menjadi sorotan tajam publik adalah pengakuan mengejutkan bahwa manajemen SPPG hanya melakukan penggantian terbatas. Roti basi yang sudah terlanjur diterima dan diduga sempat hampir dikonsumsi siswa, hanya diganti dengan satu pcs roti baru.

 

“Kami sudah meminta maaf kepada pihak Sekolah atas kurang telitinya Quality Control di SPPG,” tambahnya.

 

Pernyataan ini sontak menuai kritik. Bagaimana tidak, sebuah program pemenuhan gizi yang menyasar anak sekolah justru mengakui kelalaian dalam proses kontrol kualitas (Quality Control) yang seharusnya menjadi tembok terakhir sebelum makanan sampai ke tangan siswa.

 

Tak hanya itu, dalam upaya menyelamatkan reputasi, pihak SPPG mengklaim telah melakukan langkah-langkah dramatis. Mereka mengaku telah “mengajukan komplain terhadap supplier roti tersebut.” Langkah ini dianggap warga sebagai upaya mengalihkan kesalahan semata, seolah-olah pihak SPPG bersih dari kesalahan.

 

“Lalu kami juga melakukan evaluasi internal terhadap aslap, koordinator dan relawan agar kejadian tersebut tidak terulang kembali ke depannya,” pungkas Adhan.

 

Klaim evaluasi internal justru memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: Mengapa prosedur Quality Control bisa begitu longgar hingga roti yang tidak layak konsumsi bisa didistribusikan ke sekolah? Apakah selama ini SPPG berjalan tanpa pengawasan ketat?

 

Insiden ini mencoreng program yang digadang-gadang untuk meningkatkan gizi generasi muda. Warga SMK Wirabuana dan masyarakat Pesawaran kini menanti tindakan nyata dari Dinas Pendidikan dan pihak terkait, bukan sekadar ganti rugi satu pcs roti yang justru terkesan mengada-ada dan mengecewakan.

By : Edi Wijaya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *