Warisan Transmigrasi dan Harmoni Budaya Desa Bagelen, Tumbuh Pesat di Bawah Kepemimpinan Visioner

Zonarepublik.com, Pesawaran – Sebuah desa di Lampung yang lahir dari perjuangan membuka hutan pada era kolonial, kini menjelma menjadi permukiman yang maju dan rukun, berkat kesinambungan kepemimpinan dan komitmen pada kearifan lokal. Di mana lokasi persisnya? Bagaimana sejarahnya? Siapa aktor kunci di balik kemajuannya? Inilah potret Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran. Sabtu 7 Februari 2026 – Sebuah

 

Bacaan Lainnya

Desa Bagelen, yang secara resmi terbentuk pada 1905 dari program transmigrasi era kolonial Belanda, kini menunjukkan kemajuan pesat dalam pembangunan infrastruktur dan kerukunan masyarakat. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa ke-13, Merdi Parmanto, S.Kom., M.Pd., desa ini berhasil memadukan warisan sejarah panjang dengan visi pembangunan ke depan.

 

Kunci kemajuan desa terletak pada dua figur utama Prof. Sugeng, penggagas dan pendiri Museum Transmigrasi di desa tersebut yang aktif melestarikan jejak sejarah, dan Kepala Desa Merdi Parmanto, pemimpin yang berkomitmen melanjutkan estafet kepemimpinan selama lebih seabad. Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, S.T., M.M., juga disebut sebagai pemberi arahan dalam pelestarian budaya.

 

Peristiwa penting terjadi pada 1905 Momen pembukaan desa (membuka alas) dan pembentukan awal oleh transmigran asal Jawa. 6 Februari 2026 Kunjungan Prof. Sugeng ke desa untuk melihat perkembangan dan menyampaikan catatan sejarah. Secara rutin (setiap Kamis): Penerapan aturan berbusana adat dan berkomunikasi dalam bahasa daerah Lampung, sesuai arahan gubernur.

 

Perjalanan ini berlangsung di Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Sebuah desa yang secara fisik terletak di Lampung, tetapi secara kultural menyimpan akar kuat tradisi Jawa transmigran.

 

Desa ini merupakan contoh nyata kesuksesan permukiman transmigrasi yang menjaga harmoni. Alasan kemajuannya adalah

1. Estafet kepemimpinan yang stabil selama 13 periode kepemimpinan.

2. Komitmen menjaga sejarah, dengan didirikannya Museum Transmigrasi sebagai pusat edukasi.

3. Kebijakan yang menjunjung kearifan lokal, seperti penghormatan pada budaya Lampung sambil melestarikan identitas Jawa.

4. Semangat “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Strateginya multifaset dalam pemimpin yang menghargai akar sejarah, seperti komitmen Merdi Parmanto untuk menjaga nilai-nilai leluhur dalam pelestarian bukti sejarah fisik melalui museum yang diinisiasi Prof. Sugeng.

Implementasi aturan budaya konkret, seperti hari Kamis berbusana adat dan berbahasa Lampung. Membangun dialog antar-generasi keturunan transmigran untuk menjaga kearifan budaya asal dan menghormati budaya lokal.

 

Prof. Sugeng: “Tongkat estafet kepemimpinan dari kepala desa pertama hingga kini… Desa Bagelen berkembang sangat pesat.”

 

Kepala Desa Merdi Parmanto: “Saya berkomitmen untuk terus menjaga kerukunan… dan menegaskan arahan Gubernur untuk hari Kamis memakai baju adat dan berkomunikasi bahasa daerah Lampung.”

Merdi Parmanto (tentang kearifan budaya): “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

 

 

Desa Bagelen membuktikan bahwa warisan transmigrasi bukanlah penghalang, melainkan pondasi untuk membangun kemajuan yang inklusif. Dengan memadukan keteguhan pada sejarah, kepemimpinan visioner, dan penghormatan pada budaya lokal, desa ini menawarkan blueprint keberhasilan permukiman yang harmonis dan berkelanjutan di Indonesia.

By : Edi Wijaya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *