PDAM BARU BEGERAK SETELAH VIRAL, WARGA BAYAR RUTIN DITINGGAL SAAT KRISIS

Zonarepublik.com, Pesawaran – Aksi damage control atau perbaikan akibat tekanan viral kembali diperagakan oleh PDAM Way Lima, Kabupaten Pesawaran. Gangguan air mati total yang menyengsarakan warga Desa Way Layap selama hampir sepekan, baru ditangani setelah aduan masyarakat membanjiri berita di media online Fakta ini menguak pola kronis: pembiaran penderitaan pelanggan hingga publik memanas.

 

Bacaan Lainnya

Keterlambatan respon yang tragis ini diakui sendiri oleh Kepala Unit PDAM Way Lima, Evi Indriani. Dalam pernyataannya, Minggu (14/12/2025), ia menyebut gangguan disebabkan pipa yang lepas akibat derasnya aliran air di gorong-gorong. “Hari ini sudah kami perbaiki dan air sudah mengalir seperti biasa,” ujarnya, disertai permohonan maaf.

 

Namun, permintaan maaf tersebut terasa hambar dan basi di telinga warga. Sebab, pengakuan di lapangan justru menggambarkan kelalaian dan sikap masa bodoh yang sistematis.

 

“Banjir terjadi malam Senin. Dari Senin sampai Sabtu, tidak ada satu pun petugas PDAM yang turun untuk memperbaiki. Sama sekali. Kami seperti dilupakan,” ujar seorang warga Desa Way Layap, suaranya penuh kegeraman. “Justru, seringkali kami atau tetangga yang nekat membenahi sendiri saat terjadi masalah. Lalu, untuk apa kami membayar tagihan tepat waktu?”

 

Kesenjangan antara penjelasan PDAM dan realita di lapangan semakin mempertegas citra buruk: lembaga ini hanya reaktif terhadap gema di dunia maya, tetapi tuli terhadap jeritan nyata pelanggannya. Perbaikan yang baru dilakukan setelah isu viral adalah bukti nyata bahwa tekanan publik lebih efektif daripada sistem pengawasan dan respons internal mereka.

 

Warga dengan gamblang menilai ini sebagai bentuk pembiaran dan kegagalan layanan. Mereka, yang setia membayar iuran, justru ditinggal dalam keadaan darurat. Air bersih, hak dasar masyarakat, ternyata hanya mengalir deras ketika aduan mereka ramai di perbincangkan, bukan ketika keran-keran di rumah mereka kering.

 

Insiden ini bukan kasus tunggal. Menurut warga, gangguan serupa sering berulang, menunjukkan kemandekan dalam perbaikan sistem dan budaya pelayanan. Krisis air selama berhari-hari di tengah bencana banjir adalah ujian nyata yang gagal dihadapi PDAM Way Lima.

 

Masyarakat kini menuntut lebih dari sekadar perbaikan teknis. Mereka mendesak evaluasi total manajemen PDAM Kabupaten Pesawaran, khususnya menyangkut standar operasional prosedur (SOP) penanganan darurat dan komitmen pada pelayanan publik. Tagihan yang rutin ditarik harus diimbangi dengan tanggung jawab yang juga hadir secara rutin, bukan hanya saat citra perusahaan terancam.

 

Meski air kini dilaporkan kembali mengalir, rasa kepercayaan warga telah terkikis. Mereka berharap kejadian memalukan ini tidak berulang. Namun, harapan itu akan tetap menjadi ilusi jika PDAM Way Lima hanya mengandalkan strategi “perbaikan karena viral”, alih-alih membangun sistem yang proaktif, responsif, dan memihak pada pelanggan yang membiayai operasional mereka.

 

Pertanyaan besar menganga: Harus viral dulu berapa kali lagi, agar pelayanan publik di negeri ini bisa bekerja dengan nurani?

Diberitakan sebelumnya dengan link berita di bawah ini : https://zonarepublik.com/warga-way-layap-disandera-pdam-mati-6-hari-desak-dprd-jangan-hanya-diam/

By : Edi Wijaya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *