Zonarepublik.com, Pesawaran – Sebuah ruas jalan rigid beton di Dusun Padang Rincang, Kecamatan Way Lima, berubah menjadi “perangkap roda” yang mengancam jiwa. Diduga akibat perencanaan dan pelaksanaan yang serampangan, bahu jalan yang tidak sejajar dan lebih dalam dari badan jalan telah menjebak belasan kendaraan, membuat ban mereka “menggantung” dan kehilangan traksi. Ironisnya, keluhan warga yang sudah berulang kali disampaikan seolah ditanggungkan ke dalam lubang yang sama.
Tragedi terbaru terjadi pada Jumat (23/1/2026). Supri, warga Pringsewu, menjadi korban berikutnya. Usai mengantar saudara ke bandara, Toyota Avanza miliknya terjebak saat berpapasan dengan truk. “Ban belakang kiri langsung menggantung di tepi beton. Penyebabnya jelas, bahu jalan yang tidak sejajar,” ujarnya.
Ini bukan insiden pertama. Farurrozi (48), warga setempat yang akrab disapa Guru Rozi, menyatakan dengan tegas, “Kita tidak menghitung berapa mobil yang mengalami kejadian ini, belasan mobil bisa lebih. Ini kejadian langganan.” Menurutnya, solusinya sederhana penimbunan segera pada bahu jalan kanan dan kiri. Namun, usulan praktis itu seolah jatuh ke telinga tuli.
Junaidi, warga Batu Raja yang kerap menjadi penolong, mengonfirmasi pola berulang ini. “Benar, ini bukan kali pertama. Beberapa kali saya melihat dan membantu,” katanya. Korban datang dari berbagai jenis kendaraan, dari Toyota Innova rombongan dari Jawa, minibus Metro, hingga mobil pribadi. “Baik ban depan maupun belakang bisa terjebak,” jelas Junaidi.
Pola Kelalaian jelas kejadian belasan kali ini bukan kebetulan, melainkan bukti kegagalan pembangunan, pemeliharaan dan evaluasi infrastruktur ini bagaikan bom Waktu untuk mudik 2026 arus mudik Lebaran yang tinggal hitungan hari, jalan ini akan dipadati pemudik dari luar daerah yang tidak hafal medan berbahaya ini. Ancaman kecelakaan massal nyaris di depan mata. Warga telah berteriak dengan solusi konkret, namun respons dari dinas terkait nampak nihil.
“Saya berharap ini dibenahi mengingat tinggal menghitung hari kita puasa dan Idulfitri. Dikhawatirkan banyak mobil mengalami nasib serupa,” pungkas Junaidi, menyampaikan alarm terakhir.
Jalan rigid beton di Padang Rincang telah menjadi monumen pengabaian negara terhadap keselamatan warganya. Setiap ketidakrataan adalah lubang tanggung jawab yang dibiarkan menganga.
Pertanyaan yang menohok dan harus dijawab Dinas PUPR Kabupaten Pesawaran, harus berapa banyak lagi korban yang dibutuhkan agar jalan ini segera ditangani, Apakah harus menunggu korban jiwa terlebih dahulu baru tindakan darurat dilakukan lantas di mana accountability (pertanggungjawaban) untuk proyek jalan yang diduga cacat desain dan konstruksi ini, Apa langkah konkret dan timeline yang jelas untuk memperbaiki “perangkap roda” ini sebelum banjir pemudik Lebaran?
Publik dan para calon pemudik menuntut jawaban dan tindakan SEKARANG. Keselamatan warga bukanlah komoditi yang bisa ditawar, apalagi diabaikan.
By : Edi Wijaya





