Kebangkitan Dukungan di Sumpah Pemuda: Gerakan Suporter Baru Bhayangkara Presisi Lampung FC Mulai Tunjukkan Taring

Zonarepublik.com, Bandar Lampung – Suasana berbeda menyelimuti Stadion Sumpah Pemuda pada Jumat (28/11/2025) malam. Laga pekan ke-13 Liga 1 antara Bhayangkara Presisi Lampung FC melawan Persebaya Surabaya tidak hanya diwarnai drama gol Dendy Sulistyawan yang menyelamatkan imbang “The Guardian of Saburai” di menit-menit akhir, tetapi juga oleh geliat dukungan yang tampak lebih hidup dan massif. Tribun stadion, yang sebelumnya sering sepi, kali ini disesaki oleh lebih dari 4.000 penonton, memberikan sinyal positif akan kebangkitan dukungan untuk tim kebanggaan Bumi Ruwa Jurai.

Peningkatan jumlah penonton ini mengundang analisis dari pengamat sepak bola Lampung. Dalam catatannya, disebutkan bahwa Bhayangkara Presisi Lampung FC sebelumnya kerap kesulitan menarik animo masyarakat jika dibandingkan dengan tim-tim Lampung era sebelumnya, seperti Lampung FC di era Divisi 1 2010 atau Badak Lampung FC, di mana tiket selalu ludes terjual.

“Pertandingan melawan tim seperti Persijap Jepara sebelumnya hanya dihadiri sekitar 800 penonton. Kenaikan signifikan menjadi 4.000 orang melawan Persebaya bukanlah suatu kebetulan. Pasti ada gerakan terstruktur di balik layar yang dilakukan oleh para dedengkot suporter Lampung,” tulis pengamat tersebut.

Gerakan ini diduga kuat digerakkan oleh tokoh-tokoh suporter Lampung yang namanya sudah tidak asing lagi. Sebut saja nama-nama seperti Adolf Ayatullah Indera Jaya (Pendiri BSS dan mantan Ketua Balafans), Diding A Kadir (Pendiri Balafans), Ali Rahman (Mantan Ketua Blaster Saburai), serta figur dari berbagai kalangan, termasuk kepolisian, yang konsisten mendukung sepak bola Lampung.

Para tokoh ini memiliki rekam jejak yang tak diragukan dalam membangkitkan euforia dan memenuhi stadion. “Di tangan nama-nama yang saya sebutkan itu nyatanya stadion hampir selalu penuh apapun timnya,” tambahnya.

Gerakan yang masih “malu-malu” ini diprediksi akan segera melahirkan wadah suporter baru bagi Bhayangkara Presisi Lampung FC. Gerakan ini dianggap memiliki kemiripan dengan kemunculan Blaster Saburai yang dahulu langsung menjadi kekuatan besar pendukung Badak Lampung FC, menguasai koreografi, dan membanjiri tribun dengan chants-chants kreatif.

Masyarakat dan dunia sepak bola nasional kini ditantang untuk menunggu: Siapa aktor intelektual yang akan tampil ke depan? Seberapa cantik dan megah koreografi yang akan dihadirkan? Berapa banyak chant (yel-yel) baru yang akan diciptakan untuk mendukung tim?

Dengan basis massa yang sudah teruji dan pengalaman para tokoh di baliknya, gerakan ini diharapkan bukan hanya sekadar euforia sesaat. Ini bisa menjadi momentum bersejarah untuk mempersatukan seluruh elemen suporter di Lampung guna mendorong Bhayangkara Presisi Lampung FC tidak hanya bertengger di papan atas, tetapi juga berani membidik gelar juara Liga 1.

Jika konsisten, Stadion Sumpah Pemuda bukan mustahil akan kembali berubah menjadi “stadion angker” yang ditakuti lawan, bukan karena hantu, tetapi karena kreativitas dan gelora dukungan tanpa henti dari para pendukungnya. Kebangkitan The Guardian of Saburai di lapangan, rupanya mulai diimbangi dengan kebangkitan para guardian di tribun. (Edi Wijaya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *